tidak terasa bulan penuh ampunan berlalu. hari yang fitri pun melenggang. tinggal menunggu jika kita diperkenankan bertemu kembali di bulan depan.
lagi terusik dengan keisengan pikiran nih. kira-kira siapa ya yang tidak memaafkan aku hingga detik terakhir ini. hmmhh.. siapa hayo?
semua manusia termasuk aku mungkin merasa sudah meminta maaf atas semua kesalahan atau kekhilafan yang sengaja maupun tidak sengaja. apalagi saya, yang kadang merasa terlalu bersalah, padahal setelah saya kroscek ke sahabat atau orang terdekat, “gak perlu segitunya lah” katanya. namanya manusia pasti tidak luput dari salah. yang penting bagaimana memperbaiki dan tidak mengulanginya saja.
memang yah, kalau tidak berhenti pasti seperti benang kusut. saya pun kadang melakukan sesuatu perbuatan karena imbas dari sesuatu. karena saya bukan orang yang suka cari gara-gara apalagi menyulut api. tapi kalau pemikiran kita seperti itu, pasti tidak ada ujung pangkalnya. pasti tidak ada yang merasa bersalah, pasti tidak ada yang introspeksi diri. yaa.. semua itu sebenarnya jalan menuju sesuatu yang lebih baik.
mungkin saya pernah melakukan hal yang paling bodoh dan tersesali di bagian akhir, karena ternyata hal itu sangat tidak perlu saya lakukan. namun jika tidak melewati fase itu mungkin saya tidak tahu secara nyata bahwa sangat penting adanya pengendalian diri. apalagi untuk orang seperti saya yang jujur, sangat sensitif dengan gangguan dari luar. saya bisa saja bersembunyi di dalam pendapat saya, bahwa saya gak akan menabuh genderang perang kalau tidak dihujam pedang duluan. nah kalau oknum yang menghujamkan pedang dari belakang itu tidak merasa dan tidak mengaku bersalah, lantas sampai kapan kondisi itu berlarut-larut? wahh, bisa-bisa jadi stroke gara-gara gumpalan dendam, sakit hati, di dalam darah. walaupun langkah penyelesaian tiap orang tidak sama, paling tidak ada sebuah perbaikan, atau menghentikannya. salah satunya, ya sudahlah, mungkin saya yang secara tidak sengaja maupun sengaja bersalah memulai dulu. mau minta maaf pun banyak medianya. lewat bertemu langsung, via sms, via telepon, via tulisan, imel, banyak khan? yang penting itikad baik di dalamnya yang harus benar-benar ada.
bagi siapa pun yang mungkin masih menyisakan marah, dengki, dendam, sama saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya. dengan lebih dulu saya lapangkan hati saya dengan memaafkan yang sedalam-dalamnya. saya bukan pendendam, bukan orang yang suka punya penyakit hati yang berbahaya. seperti kata ustadz, orang yang baik adalah orang yang susah marah tapi gampang memaafkan. bukan orang yang susah marah tapi susah juga memaafkan atau orang yang gampang marah tapi juga gampang memaafkan. yaa… saya masih dalam perjalanan menuju yang lebih baik…
hehehe… ntah ini apologi dari saya. sebenarnya saya kalau tidak kepentok banget susah marah sih. kalau jengkel sering (hehehe lha sama saja). kalau sudah kena di hati, susah juga ilangnya. tapii.. gak bisa lama-lama. walaupun kadang kata sahabat saya ” gak perlu saya yang minta maaf duluan” pasti saya nyelonong minta maaf duluan. sampai dulu pernah dimarahin habis-habisan sama sahabat cowok saya gara-gara saya telpon seseorang yang tidak aku kenal, kemudian jadi ruwet, trus saya minta maaf. katanya, ” dia bukan orang penting buat seorang kamu hingga kamu telpon. bla…bla…bla…” duh aku sebenarnya terharu melihat sahabatku mencak-mencak takut aku hilang harga diri. hahaha… tapi lucu juga, memang apa susahnya ya minta maaf. gengsi? harga diri? walah ke laut aja. dianggep sepele sama yang nganggep kita musuh gara-gara minta maaf, ya udah gapapa, Allah Maha Tahu. take it easy to be better lah…
hayoo.. yang masih nganggep aku virus, benalu, apalagi musuh ngaku hayoo. bilang minta aku mohon maaf model gimana? sungkem juga gapapa, tapi jangan marah lagi kalau tau-tau aku iket kakinya pake rafia. mulai dari nol aja, enak…
No Comments Yet