Pagi-pagi suasana kantor yang kurang kondusif. Pagi-pagi sudah dikasih sarapan kasus, bikin gak enak, bikin aku cari jalan untuk ngembalikan mood. Salah satunya buka forum online, dan kepergok bahan discuss temen2 se-Indonesia Raya. Upload yang menggelitik, paling tidak di matchingin ma teori kuliahku dulu yang pastinya sudah familiar dengan telingaku.
Pandangan dari sudut lain, gak cuma tinjauan psikologis azzaa.. apalagi Cuma mikir seperti lagunya Ussy “ aku memang punya “klik”… buat kau “klik”….” Hahaha, kamera aja bisa ngadat kebanyakan di klak-klik klak-klik
Makanya aku upload lagi, sambung-sambung ilmu boleh khan?
Bikin mood kembali tertata, selain forum banyolan iseng lainnya J keep reading yach!
*Manajemen Pernikahan*
Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan oleh telepon dari seorang teman
wanita. Lebih terkejut lagi karena tanpa basa basi dia langsung bertanya apa
sebab dulu saya berpisah dengan mantan suami saya. Mendengar pertanyan itu,
saya lantas balik bertanya, apakah dia juga ada rencana pisah. Dia bilang
bukan, justru dia ingin menikah…
Teman ini dalam pandangan saya, termasuk salah satu yang menjalani hidup
dengan “serius”. Saya kenal dia cukup lama, hampir 9 tahun. Di usianya yang
masih sangat muda, ia sudah menduduki posisi strategis di sebuah perusahaan
*painting* besar. Kemudian dia melanjutkan S2-nya di Australia dan India
atas beasiswa dari perusahaan rokok terkemuka. Wajahnya pernah terpampang di
surat kabar sepulang dia dari sekolah tersebut. Dan saat ini, dia bekerja di
perusahaan multinasional besar.
Kami berbincang hampir satu jam. Dia sempat menyatakan kebimbangannya
tentang pernikahan dengan menanyakan apa resiko yang dia tanggung jika dia
menikah. Sebagai seorang intelektual yang selalu punya perhitungan di atas
kertas, diapun memperlakukan sebuah pernikahan sebagai suatu organisasi yang
memiliki resiko dan ancaman tertentu. Dan dia yakin, dengan pengalaman
perceraian saya, dia akan bisa memperoleh *support* data buat menjawab hal
itu dan menetapkan strategi untuk meminimalisasi resiko-resiko tersebut.
Saya tersenyum dengan pernyataan-pernyata an yang dia ungkapkan. Adakah
orang lain yang juga memiliki pandangan seperti itu…? Kami memang
sama-sama belajar manajemen strategi, juga belajar manajemen resiko.
Organisasi punya strategi, pun punya resiko. Pernikahan juga demikian
adanya. Saya sangat paham dengan cara berpikir teman saya ini. Tapi
tentunya, menikah tidak melulu soal angka..
Orang membentuk sebuah organisasi ada tujuan yang umum disebut dengan visi
dan misi. Ada analisa — sebutlah yang paling dasar saja–, SWOT, Strenght
Weakness Opportunity dan Threat. Dalam jangka waktu tertentu, diharapkan
modal yang digunakan untuk membangun organisasi itu akan kembali, atau
disebut dengan titik BEP, Break Even Point. Lamanya pencapaian BEP sangat
ditentukan oleh *effort* dan *strategy* yang dilakukan pada masa awal pasca
kelahiran organisasi. Dan tentu saja faktor P ke-5 yaitu “people” sebagai
pemikir dan penggerak di dalamnya memiliki peranan besar yang mengarahkan
organisasi tersebut meraih visi-nya.
Resiko yang dihadapi mencakup resiko internal dan eksternal. Resiko
eksternal sifatnya luas dan lebih *intangible*, misalnya *goverment* *policy
* seperti harga BBM, aktifitas pesaing, *market size* dan lain sebagainya.
Faktor eksternal hampir selalu bisa dipelajari melalui *historical*
*data*dengan me-review kejadian-kejadian yang pernah terjadi dua
hingga tiga tahun
ke belakang. Sedangkan faktor internal, ada di dalam organisasi itu sendiri.
Mulai dari kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, infrastruktur yang
dimiliki, perhitungan *cost*, analisa *profit and loss*, distribusi,
pemasaran hingga *people management*. Namun, ada resiko laten yang juga
harus diperhatikan, yaitu faktor *human*. Sistem bisa diciptakan dengan
sempurna, *zero defect*. Tapi penggerak dari sistem itu tetap saja manusia
yang memiliki paham dan pemikiran sendiri-sendiri.
Visi dan misi akan bisa tercapai, jika dipahami dengan persepsi yang
*sama*oleh setiap penggerak, mulai dari top manajemen hingga
*office boy* sekalipun. Sebagian golongan saja yang menyerap visi dan misi
dengan persepsi yang berbeda, bisa berdampak kepada perbedaan pendapat,
penyimpangan hingga perselisihan yang bisa memutuskan rangkaian
*proses*kerja yang sudah ditetapkan. Lebih buruk lagi,
perbedaan-perbedaan ini bisa
mengarah kepada ketidakseimbangan dan siapa yang tidak bisa bertahan dengan
perbedaan tersebut pada akhirnya lebih memilih hengkang.
Bagaimana dengan pernikahan.. Sama dengan organisasi, menikah pun harus
punya visi dan misi. Harus punya target dan strategi. Juga ada resikonya.
Resiko yang paling vital adalah terjadinya perceraian. Jika sudah sampai
pada titik ini, artinya pondasi dan tiang dalam rumah tangga sudah tidak
menyatu lagi, sehingga runtuhlah bangunan itu. Setiap orang yang akan
menikah pasti punya tujuan idealis sendiri. Lucunya, saat saya tanya teman
saya apa tujuan dia menikah, justru dia menjawab ‘tidak ada. Aku hanya harus
menikah.’ Hhumm.., ternyata, seorang rasionalis-pun kadang kehilangan ‘rasa’
ketika harus menetapkan tujuan.. Ups…
Saya kutip sedikit ucapan dia “There’s no excitement about it. I just find
him kind, serious dan ready to married. Makanya aku perlu tahu, resiko apa
saja yang akan terjadi dan harus aku tanggung. Coz I know this is a very big
deal. Why even a person like you can’t survive your marriage…”
Bahkan jika sepuluh orang gagal berumah tangga di interogasi sekalipun,
tidak akan bisa menjawab pertanyaan, “berapa rasio kegagalan dalam rencana
pernikahan saya”. ROI (Return on Investment)- nya bukanlah 30 persen
kenaikan penghasilan atau *cut-off* 20 persen pengeluaran pribadi… Terlalu
mudah jika demikian.
Barangkali pelajaran yang bisa dikutip dari manajemen organisasi di atas
yaitu persamaan persepsi tentang organisasi, visi dan misinya. Ketika dua
orang manusia ingin melebur dalam satu lembaga perkawinan, seyogya-nya
mereka berdua memiliki paham yang sama tentang konsep pernikahan dan
eksistensi serta peran dari masing-masing fungsi: istri dan suami, ibu dan
ayah. Dengan memahami bahwa pernikahan adalah ajang untuk saling melengkapi,
menutupi kekurangan masing-masing dan mengisi atas dasar landasan yang sama
dan diimbangi dengan tujuan ibadah pelengkap dien, bisa jadi pernikahan
malah jauh lebih sederhana ketimbang suatu organisasi.
Kalau sudah begitu, maka resiko bukanlah menjadi resiko pribadi atau
perorangan. Resiko menjadi milik bersama. Hidup toh bukan hanya “aku dan
kamu” saja, ada orang lain, ada lingkungan, ada faktor eksternal, ada masa
lalu. Namun, kesolid-an hubungan kedua insan dalam internal pernikahan
dengan masing-masing menyadari langkah tak selamanya mulus dan aral kadang
melintang, berdua malah justru menjadikan semua itu ringan, seuntai goresan
warna dan hanyalah bagian dari proses pembelajaran ke arah yang lebih baik.
Badai pasti berlalu, siang pasti berakhir dan roda pasti berputar. Hiduplah
untuk hari ini, dan hiduplah untuk hari esok.
Jalan menuju pernikahan yang paling baik justru adalah jauh dari tipuan
perasaan yang bisa membutakan. Perlukah *excitement*? Perlu, tapi *
excitement* horizontal, *excitement* untuk menyempurnakan separuh dien.
Bukan *excitement* duniawi. Jika menempuh jalan ini, insya Allah *excitement
* duniawi dengan sendirinya akan timbul pasca pernikahan berupa hidayah dari
Allah.
Kapan titik BEP pernikahan? Menjawab pertanyaan ini, ada sebuah cerita lucu.
Waktu itu teman yang lain akan melangsungkan pernikahan dengan hanya
mengundang orang-orang “tertentu” saja, yang menurutnya akan memberikan
angpow cukup besar yang akan menutup biaya pernikahan. Namun yang terjadi
justru undangan yang datang malah jauh lebih sedikit dari yang diharapkan.
Barangkali karena pesta pernikahan dilaksanakan di tengah *long weekend.
*Jadi,
tujuan untuk mendapatkan “return” dari angpow para undangan, jelas tidak
tercapai… Yang pasti BEP pernikahan bukanlah dalam hitungan (angpow)
rupiah, atau rasio *income* dibagi *expense* = nol. BEP itu hanya bisa
dirasakan di hati. Adalah ketika kehidupan pernikahan menjadi *al-baiti
jannati*, “aku tak bisa hidup tanpa kamu”, dan lebih bahagia dengan status
menikah dari pada waktu status masih lajang. Kapankah itu…? Bisa 2 tahun,
1 tahun, 1 bulan, bahkan 1 minggu. Tergantung ikhtiar dan kedewasaan
masing-masing individu.
Bagaimana bisa tahu apakah visi dan misi sudah tercapai? Jika visi dan misi
sesuai dengan syariat, tercapai atau tidaknya merupakan proses panjang.
Penikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah, akan abadi hingga di fase
kehidupan berikutnya. Tapi paling tidak, perasaan aman dan tentram di dunia
ini saja, serta anak-anak yang sholeh yang selau mendoakan, sudah bisa
menjawab pertanyaan di awal alinea ini.
pernikahan dan perceraian seseorang merupakan pelajaran hidup yang bisa
dipetik hikmahnya, tapi *tidak* bisa dijadikan patokan dan
*bench-mark*untuk pernikahan orang lain. Apalagi menjadikan traumatis
bagi yang
berencana menikah. Tapi saya percaya, setiap jalan hidup syar’i yang
ditempuh merupakan langkah ke arah ma’rifatullah. Dan menikah adalah salah
satunya. Menikahlah karena Allah, menikahlah untuk menjemput ridho Allah,
menikahlah karena sunatullah. Kalau ini menjadi landasan, pun ketika takdir
mengatakan harus berpisah, dengan enteng kita bisa bilang, “sudah jalan-Nya
begitu, cukuplah Allah bagiku…”
Sore yang hujan, 14 Jun. 08
diupload sama salah satu Akang Forumers KCU Tangerang >> MUHAMMAD FERDIAN
No Comments Yet