Tanggal 23 itu tidak baik untuk pegawai yang “mburuh” di Jawa Timur  seperti bank gini. PNS, Guru, apalagi yang bekerja di sector pemerintahan dan kroninya pada libur, ee.. aku fulltime kerja, malahan rapat sampai malem, nasib…nasib… Cuma dapat dispensasi terlambat sampai jam tertentu yang masuk akal tentunya. Maklum juga sih, sudah punya Gubernur sendiri, jadi gak perlu libur, hehehe… Gubernur BInya gak libur masa kita2 libur.  Bisa-bisa bikin SPBU tutup, pebisnis blingsatan gak bisa ngejalanin lalu lintas financialnya,

 

Kalau di pikir-pikir, enak juga, Cuma nyoblos gubernur yang waktunya serentak sampai jam 13 kosong-kosong, dan antri gak sampai 10 menit, dapet libur seharian. Itulah Indonesia… 

 

Tadi dapat gambar wayang, ada lima pasang wayang dengan nama samaran yang unik. Lho

KAJI ——–  jadi inget lagu plesetan orang-orang, “ WAK KAJI NYOLONG KATOK..” artinya, pak kaji nyuri celana

 

SALAM—–  untuk pas kampanye tangan cagubnya gak ngacungin “SALAM METALL!!!”  katanya malah SALAM BEBAS, ntah bebas apaan.

 

KARSA—— dengan jargon, coblos brengose! Tapi di daerah tapal kuda jadi COBLOS SONGOTNA! (songot=kumis, madura). Keren juga nih.

Yang lainnya aku lupa.

 

Sampai detik terakhir, sebenarnya masih gak seberapa paham dengan plus minusnya para calon. Tapi karena punya Hak milih jadi Wajib dong urun serta. Memang celetukan orang menyuarakan Golput sih banyak, tapi kalau mau berpikir jernih  “ Kalau kita berpikir semua tidak berkompeten, trus siapa menurut kita yang bisa. Apa benar kita sudah seatus persen tahu dimana letak tidak kopetennya? Jangan-jangan karena kita sudah sakit hati dengan pemerintah, menyeragamkan semua menjadi jelek semua… Golput sebagai pilihan terakhir it’s okay… “

Bismillah saja dan berdoa, semoga pilihan kita bisa mengemban Amanah yang sudah kita berikan. Nanti pada perjalanannya, adalah bagian dari setiap orang juga untuk menilai dan meminta pertanggungjawaban. 

 

Perkembangan terakhir, banyak rumor menunjukkan kalau prosentase golput begitu tinggi di tiap-tiap TPS. Hehehe.. sekali lagi, itulah Indonesia, fenomena democrazy. Di sisi lain demokarasi di gembar-gemborkan sebagai jargon abad ini, tapi di lain pihak, para wakil rakyat semakin menunjukkan perilaku yang semakin menurunkan tingkat simpati, empati, dan kepercayaan masyarakat. Menjadi antiklimak dari tujuan demokrasi itu sendiri… Itulah Indonesiaaaa….


Leave a Comment