sudah lama saya tidak menengok kota satu ini. kebetulan ada waktu luang dan butuh membeli sesuatu, akhirnya saya berangkat juga menjenguk kota ini. sepertinya jika menggunakan kata tamasya ke surabaya terlalu berlebihan. mengapa?

pertama turun tol kita sudah di beri pemandangan gedung yang rasanya sama sekali tidak mengindahkan teori efek rumah kaca. katanya mall ini mau di buat condominium, office park plus hotel, dan tidak ketinggalan mall. masalahnya, saya miris melihatnya, tinggi sekali dengan full kaca. kalau silau sudah pasti, tapi efek ganas lainnya, pasti menaikkan suhu kota ini sekian seperderajat deh. saya sudah pernah 8 bulan menetap di kota ini, dan tahu rasanya naek angkot jam 12 siang, pas panasnya lho, seperti microwave sedang panas2nya. ehh, pas saya lewat minggu itu jam 9 udah bikin AC gak berasa, terik!… mau tolah toleh ke kanan kiri pun malas. adanya deretan rumah toko berjejal dari yang kumuh sampai yang lumayan tertata. diselingi sungai wonokromo yang jelas terlihat buthek-nya. yang bikin sedikit adem hanya jalanan darmo. tapi saya semakin perhatikan mendetil, saya jadi nelangsa melihat pohon hijau besar2 yang berjajar rapi, sepertinya layu dan mungkin saja letih. perbandingan nafas pohon mengeluarkan O2 tidak sebanding dengan nafas knalpot kendaraan yang tidak pernah berhenti 24jam.

belum lagi kondisi lalulintas yang begitu ruwetnya. pengendaranya yang bikin deg2 ser dari cara mengendarainya. nyelip gak karuan, hehhh… jadi bikin panas hati, hanas semuanya…

jikapun ada perumahan yang layak huni, bagi saya hanya perumahan Citraland yang memang sudah menjadi kota mandiri nan elit yang jadi singapura-nya Surabaya. yang kalau malam2 di dua boulevardnya menjelma seperti pusat jajanan ala australia, bisa kongkow di tepi jalan dengan setting yang nyaman. lainnya, panas!!! surabaya sudah tua, seperti keset buluk yang tetap dijamuri mall2 dan gedung2 menyilaukan. jikapun berharap agar pemerintah bisa mengembalikan tata kota yang manusiawi rasanya kok mustahil. perijinan boleh punya aturan, tapi buktinya ada sengketa, ijin belum deal, gedungnya tetap saja dibangun. lebih baik, surabaya hanya jadi tempat ngantor dan belanja (karena sudah kadung…).


Leave a Comment