namun juga ada kenyataan lain, setelah bertahun-tahun saya berada di salah satu kota terbesar di Jatim, sekarang semakin tumbuh sekolah-sekolah ” high class”. bertebaran dimana-mana, sekolah plus, bertaraf internasional, unggulan, plus-plus laennya. semuanya serba high, dari kurikulum yang high quality, fasilitas yang melimpah, dan tentunya biaya pendidikannya yang benar-benar tinggi. tidak salah kalo beberapa dari nasabah saya terkadang ketika bertransaksi sambil menyampaikan keluh kesah-nya ” duhh mbak, habis uangnya nih buat biaya spp, ini-itu” atau ” duhh, buat beli buku lks ni mbak, mahal sekarang ya”. yang bikin saya melotot lagi, ada orang mau meregistrasikan anknnya masuk kedokteran universitas swasta, setelah saya cek tagihannya ternyata 120juta! saya sampe istighfar beberapa kali, miris, uang sebanyak itu lebih baik untuk buka usaha atau beli franchise saja. saya juga malah kepikiran negatif, jangan2 banyak kasus dokter malpraktik juga gara2 ini, pokoknya bisa bayar mahal walaupun kemampuan pas2an bisa jadi dokter. dari beberapa penggambaran diatas, juag bisa diamata bahwa banyak orangtua2 yang khawatir dengan biaya pendidikan. sekolah2 tersebut berlomba-lomba menawarkan service pendidikan yang berkualitas tinggi, namun juga harus dibayar dengan biaya yang tinggi pula. dampak yang paling terlihat adalah, untuk yang punya biaya pas2an cukup di TK atau SDN saja. dampaknya kemudian merembet kepada gengsi. karena pada kenyataannya, setelah menguping pembicaraan ibu-ibu, salah satunya ” anakmu sekolah dimana? kalau anak saya sekolah di SBI itu tuh..”
jika miris terhadap kenyataan tersebut, pada akhirnya kita akan menyenggol pemerintah. sepertinya pemerintah membiarkan semuanya tumbuh secara tidak terkendali. membiarkan ketimpangan itu semakin membesar. sekolah negeri semakin banyak yang mau ambruk, sedangkan sekolah yang “kinclong” dengan biaya pendidikan yang “kinclong” juga semakin bertebaran di mana-mana. hmm… sepertinya saya sudah lelah dengan pemerintah yang semakin impoten ini. lelah sudah untuk meneriaki atas ketidakadilan yang terjadi. tapi saya ingin mengulang (mungkin adan ide yang lebih dulu dan sama) usul konkret menghadapi kenyataan ini. SUBSIDI SILANG!!! pemerintah seharusnya selain mengijinkan berdirinya sekolah2 swasta yang “berdaya jual tinggi” itu, juga harus mewajibkan subsidi silang kepada sekolah tersebut. jadi semua sekolah swasta berkewajiban memberi fasilitas kepada orang yang tidak mampu untuk ikut bersekolah di sekolah yang mentereng tersebut. biayanya di subsidi dari biaya pendidikan yang sudah mahal tersebut, disisihkan sebagian untuk biaya pendidikan orang yang kurang mampu utuk bersekolah di sekolah tersebut. tidak perlu subsidi silang 50 persen. 10persen saja dari jumlah murid harus diisi anak-anak kurang mampu. hampir sama dengan infaq kan??? jadi tidak hanya bertanggungjawab mencerdaskan anak-anak golongan ekonomi tertentu saja tapi juga mencerdaskan kehidupan bangsa, semua lapisan masyarakat!
(apakabar guru2 yang di pendalaman sana yang bergelut dengan keterbatasan?? angkat topi untukmu…)
No Comments Yet